Create New Playlist

Add a cover pic of your own choice

(Optional)

Name

AI Cover Generator

4 credits

Not enough credits (0/4).

Logout

Are you sure you want to Logout?

Close

Dua Altar di Satu Rumah 1 by 08

SongGPT
Dua Altar di Satu Rumah 1 by 08 - Ballad,Female vocals music cover art

Dua Altar di Satu Rumah 1

Ballad,Female vocals

0:003:58
Lyrics
Description
[Verse 1]
Malam kota penuh lentera, kau datang dengan selendang dan senyum,
Di meja panjang ada nasi, ada kue, ada doa yang berbeda waktunya.
Di pojok rak kecil dua ruang suci—sebuah lilin, sebuah lonceng kecil,
Ibu menunduk, bibirnya bergetar antara tradisi dan kerinduan.
[Pre-Chorus]
Bisikan keluarga bilang "tak bisa", angin pun membawa berat itu,
Tapi tatapanmu menenangkan gelombang-badai di dadaku.
Kau genggam tanganku di antara piring dan doa, suara kita jadi penghubung.
[Chorus]
Kita lipat dua peta jadi satu, seperti origami yang tak akan robek,
Kau pegang pagiku, aku simpan malammu — kita tukar penjaga waktu.
Satu lilin dari dua nyala, satu lagu dari dua nadanya,
Dua altar di satu rumah, cinta menulis paspor tanpa kata.
[Verse 2]
Subuh kau berlutut di teras, adzan menyentuh udara dingin,
Senja aku menutup mata, suara kidungmu jadi selimut yang lembut.
Saudaraku bertanya siapa yang akan memulai tradisi baru ini,
Tetapi di meja makan, tanganmu mengulurkan roti dan senyum yang sama.
[Pre-Chorus]
Kata-kata tajam dari luar mencoba menggaris jarak,
Namun kita menulis rute sendiri: menuangkan teh, menggabung mantra.
Di sela-sela ritual ada canda, ada kesepakatan kecil yang amat berharga.
[Chorus]
Kita lipat dua peta jadi satu, seperti origami yang tak akan robek,
Kau pegang pagiku, aku simpan malammu — kita tukar penjaga waktu.
Satu lilin dari dua nyala, satu lagu dari dua nadanya,
Dua altar di satu rumah, cinta menulis paspor tanpa kata.
[Bridge]
Ketika keluarga berdiri di persimpangan, kita ambil satu langkah,
Kau taruh minyak wangi di meja, aku menyambut dengan doa bisu.
Kita nyalakan lilin bersama, kau menyanyikan satu bait, aku menambah nada,
Di antara lonceng dan azan, kita menenun sebuah lullaby—setengah kidung, setengah mantra.
[Chorus - Final]
Kita lipat dua peta jadi satu, rumah kita peta yang tak pudar,
Kau pegang pagiku, aku simpan malammu — kita jaga janji tanpa suara.
Satu nyala dari dua keyakinan, satu napas dari dua harapan,
Dua altar di satu rumah, cinta menutup jarak dengan sapaan.
[Outro]
Di ambang pintu, ibu tersenyum melihat piring yang kini penuh cerita,
Langit menaruh bintang sebagai saksi—kita belajar menyebut rumah dengan satu nama.
Dua jalan bersilangan, dua doa berjalan berdampingan,
Dua altar di satu rumah, di sini kita tumbuh, di sini kita pulang.